Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label offshore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label offshore. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Maret 2011

Jacket Structure

thank you for visiting this blog, I want to share knowledge about the offshore structure to you, especially for some people who arestudying offshore structure....
  • Offshore Structure
Types of offshore structures used during this time very much, but some offshore structure which is currently being used for explorationand exploitation of oil and natural gas. "jacket" is one of the offshore structure being developed for exploration and exploitation of oil and gas companies operating in the shallow sea and the seais a basic thick, soft and muddy. After the "jacket" was placed in the desired position, the pile is then inserted through the foot of the building and driven by "hammer" to penetrate the hard ground and then installed and welded decks.
Jacket Types Offshore Structure

  • The Main Component Of Jacket Structure
jacket structure is divided into 3 (three) main components, where each component has different functions. three components are:
  1. Deck This component serves to support equipment, drilling and activities undertaken over the water. decks can be divided into several levels according to the needs and functions needed. several levels of decks are : Main Deck, Cellar Deck, Mezzanine Deck, Upper Deck
  2. Jacket This component serves to protect the pile to remain in positionsupport the deck and protect the support sub-conductors and other structures such as boat landings, barge bumpers and more. The main element jacket structure is as followsjacket legs, braces (vertical, horizontal, and diagonal), joint (a meeting between jacket legs and braces), Boat landing, brage bumper, riser, conductor bracing, mud-muts, and others
  3. Fondation a pile which is placed in a jacket leg and will be anchored on the seabed. between pile grouting is sometimes done to increase stiffness and to pile and jacket together. Pile skirt and sleeves are always given a filler (grouting).
Jacket is poles around the exploratory wells that protect pumpsdrilling wells and the other. fitted jacket from the mudline to the deck substructure. Jacket legs will direct the pile during pile erection. Jacket, including fundamental structural elements on a platform that gives support to the anchoredship collision, corrosion protection system, navigation system etc.
  • Composition of the framework at the foot of jacket
    jacket legs are connected to each other and bound by 3 (three)types of claimant, namely:
  1. Diagonal bracing in the vertical plane
  2. Horizontal bracing in the horizontal plane
  3. Diagonal bracing in the horizontal plane
  • In addition the bracing system has 3 (three) functions:
  1. Help move the horizontal loads on foundations
  2. Provide structural integrity during fabrication and installation
  3. Support the anode corrosion and head of conductor and continuethe forces generated waves into the foundation
Braces in the form of vertical, horizontal, and diagonal along with the jacket legs to form a separate power system. These systems distribute the load and stiffness of the force platform to the foundation. There are many different types of brace as follows:
  • types 1. Form a pattern of "K" brace
    This type has a number of meeting points sticks (joints) is much less. not symmetrical and has no system redundancy. And is usually used on sites that do not require high stiffness and no seismic force
  • types 2. Form a pattern of "V" brace
    This type of joint on a bit and do not have a redundancy system. do not have a good load transfer system from one level to another level 
  • types 3. Form a pattern of "N" brace
    This type of system has no redundancy, 
    buckling failure on one stempress can cause a failure in another shaft (structurecollaps)
  • type 4. form a pattern of "V" brace and "X" brace
    This type is used in locations that are not in, have a symmetrical shape, redundancy, and sufficient ductility, the amount of joints more
  • type 5. form pattern of all "X" brace
    This type has horzontal stiffness, ductility and high redundancy, the amount of joint so that it takes a lot more welding, widely used indeep-sea location and seismic prone areas
so first of my hopefully useful for all of us. thank you for visiting. -From various sources- (gilankhelang.blogspot.com)

Selasa, 09 November 2010

OFFSHORE FARMS FISH (peternakan ikan lepas pantai)

Akhir-akhir ini dinegara-negara maju marak sekali tentang isu offshore farms fish, yaitu sebuah peternakan ikan yang sengaja dibuat dan di desain untuk perairan di laut dalam. Ketika saya mendengar itu saya sangat tertarik sekali dengan permasalahan tersebut, terlebih jika permasalahan tersebut dapat diaplikasikan pada perairan laut Indonesia. Sungguh suatu trobosan yang sangat luar biasa mengingat di negara kita Indonesia ini memiliki kekayaan laut yang sangat luar biasa besar. Peternakan ikan laut akhir-akhir ini dipandang sebagai cara untuk membantu mengisi mangkuk makan malam di seluruh dunia dan juga berguna mengurangi tekanan terhadap penurunan populasi ikan laut liar. Saat ini industri akuakultur di Negara-negara maju seperti Amerika sudah siap untuk melepaskan jubah pesisir mereka untuk memulai sebuah usaha peternakan pada perairan yang lebih dalam. 

Pernah suatu ketika pemerintahan Amerika berencana akan membuka 3,4 juta mil persegi laut, lahan dari sekitar 48 negara bagian Amerika untuk dibuat sebuah peternakan ikan pada laut dalam. Bahkan sudah dibuat pula sebuah RUU yang akan memungkinkan sekretaris Perdagangan AS untuk mengeluarkan suatu izin untuk pengelolaan dan pembuatan tambak ikan di perairan federal, dengan luas hingga 200 mil pada lepas pantai.
Undang-undang yang diusulkan tersebut merupakan upaya terbaru untuk mengimplementasikan rekomendasi dari Komisi AS di Ocean Policy, yang dikirim Gedung Putih untuk merombak pendekatan Negara-negara tersebut yang diperlukan untuk mengelola sumber daya lepas pantai yang luas. Ini juga merupakan awal dari sebuah proses yang akan memberikan berbagai "stakeholder", termasuk industri perikanan, kelompok lingkungan, negara bagian dan pejabat pemerintah setempat. Sebuah kesempatan untuk membantu membentuk aturan-aturan baru yang nantinya bias mensejahterakan rakyat. Pejabat federal mengatakan. "Tujuannya adalah untuk mengembangkan program perikanan budidaya yang berkelanjutan yang menyeimbangkan kebutuhan nelayan, warga pesisir dan para wisatawa, serta konsumen seafood, lingkungan, dan industri perikanan," kata Conrad Lautenbacher Jr, selaku administrator National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA ), dalam sebuah pernyataan.

Hal ini untuk menyiasati peningkatan permintaan global untuk ikan sebagai sumber protein diet, agar produksi perikanan tidak menurun, dan suatu upaya budidaya ikan laut untuk meningkatkan ekspor ke luar negeri. Pada tahun 2030, bila setengah dari manusia mengkonsomsi ikan,maka ikan datang dari saham liar. Menurut perkiraan PBB, budidaya ikan akan mendominasi. konsumsi global diperkirakan akan mencapai 110 juta metrik ton ikan dalam lima tahun ke depan.
Di Amerika serikat, "ahli gizi yang meminta masyarakat untuk makan dua kali lebih banyak hasil laut", kata Michael Rubino, manajer program budidaya NOAA. "Saat ini Amerika mengimpor 70 persen dari makanan laut dari yang mereka makan sehari-hari, dan perikanan liar tidak akan mampu memenuhi permintaan pasar di masa depan Jadi, setiap peningkatan kebutuhan ikan maka sudah bisa dipastikan pasokan yang berasal dari budidaya. Pertanyaannya adalah, “apakah negara terus mengimpor, atau Negara mampu menghasilkan ikan untuk beberapa negeri? "
Saat ini, AS mengkonsumsi 6 juta metrik ton ikan per tahun. Pada tahun 2025, konsumsi AS diperkirakan akan tumbuh dengan lain 2 juta ton metrik.
"Jika Amerika bisa menghasilkan itu di negaranya, maka Negara akan menciptakan 500.000 pekerjaan langsung, dan 100.000 atau lebih pekerjaan tidak langsung, dan berkontribusi sekitar $ 5 milyar pada pendapatan," kata Dr Rubino.
RUU itu akan memungkinkan NOAA untuk mengeluarkan dua izin - izin lokasi dan izin operasional - selama 10 tahun. Operator dapat memperbarui izin mereka secara bertahap lima tahun. Untuk menerima izin, petani ikan harus memenuhi sejumlah persyaratan yang berkaitan dengan isu-isu seperti pemantauan lingkungan dan kualitas, dan praktek bisnis. "Mereka akan bekerja dalam proses pengawasan-desain," kata Rubino.
Dan itu dirancang untuk mendorong negara maju dalam teknologi untuk menciptakan suatu solusi budidaya ikan lepas pantai yang lebih ramah lingkungan di laut terbuka.

Nah dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa usaha peternakan di lepas pantai atau yang biasa disebut sebagai “offshore farms fish” adalah suatu langkah yang sangat tepat untuk meningkatkan kesejahteraan suatu bangsa. Mari kita bayangkan apa yang akan terjadi jika teknologi tersebut dapat di aplikasikan di Negara Indonesia? Yang terjadi ialah akan terbuka juga ratusan lapangan pekerjaan baru yang akan mendukung kelangsungan offshore farms fish, dan dampaknya akan mengurangi angka pengangguran dengan sangat segnifikan. Selain itu offshore farms fish juga akan mendorong kegiatan ekspor negara yang ujung-ujungnya akan mendongkrak devisa dalam negeri. Indonesia terkenal sebagai Negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa besar, namun jika pengelolaan dari sumber daya alam tersebut kurang baik. Maka sumber daya alam Indonesia tidak akan ada artinya. Sampai kapan Negara kita akan tetap miskin? Jangan sampai Negara kita menjadi Negara yang kaya sumber daya alam namun bangsanya miskin. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian..

-dari berbagai sumber- (www.gilankhelang.blogspot.com) 

JURUSAN TEKNIK KELAUTAN

LATAR BELAKANG
Berdasarkan Keputusan Presiden RI No.58 tahun 1982 tentang re-organisasi universitas/institut maka mulai tahun ajaran 1983/1984 di ITS telah didirikan Jurusan Teknik Kelautan. Di lingkungan ITS Jurusan Teknik Kelautan berada di bawah Fakultas Teknologi Kelautan bersama dengan dua jurusan lain yaitu Teknik Perkapalan dan Teknik Sistem Perkapalan. Pendirian Jurusan Teknik Kelautan sesuai dengan Surat Keputusan Mendikbud RI Nomor: 0174/0/1983 tanggal 14 Maret 1983. Pendirian Jurusan Teknik Kelautan - ITS (JTK- ITS) awal mulanya didasarkan atas kebutuhan  industri akan tenaga terdidik dibidang rekayasa kelautan terutama industri Migas Lepas pantai. Tahun 90-an JTK berkembang ke bidang Teknik Lepas Pantai dan Teknik Pantai. Jurusan Teknik Kelautan – ITS merupakan salah satu jurusan rekayasa kelautan tertua di indonesia, sehingga sudah sewajarnya bahwa jurusan ini menjadi Pusat Unggulan ( Centre Of Excellence) dibidang Teknik  Lepas Pantai  dan Pantai ( Offshore & Coastal Engineering) dengan Track Record lebih dari 22 tahun berpengalaman di bidang kelautan yang mempunyai visi menjadi lembaga pendidikan tinggi rekayasa kelautan bertaraf internasional. Apalagi didukung dengan sertifikasi akriditasi pendidikan kualifikasi A dari Badan Akriditasi Nasional (BAN) dan pengakuan kesetaraan dengan pendidikan tinggi Naval Architecture di Inggris dari RINA dan  ImarEST, jurusan ini bertujuan untuk mendidik tenaga ahli yang mampu menyelesaikan permasalahan bangunan Lepas pantai dan pantai, serta fasilitas pelabuhan dalam penanganan sistem terpadu untuk kelestarian lingkungan laut dan pantai.


VISI
Menjadi Lembaga Pendidkan tinggi rekayasa kelautan bertaraf internasional

MISI
·         Menyelenggarakan pendidikan tinggi rekayasa kelautan yang efisien, relevan dan dapat dipertanggung jawabkan
·         Menyelenggarakan penelitian dalam rangka pengembangan ilmu rekayasa kelautan yang bermanfaat bagi masyarakat
·         Memberikan pelayanan berbasis ilmu pengetahuan teknologi kelautan yang mengarah pada peningkatan kesejahteraan.

STRATEGI
·         Membangun Suasana akademis yang kondusif berdasarkan: Solidaritas, Kesepahaman, Kepedulian, komunikasi dan kerjasama
·         Peningkatan kapasitas, kapabilitas dan kemampuan profesional melalui akademis networking, riset, dan kerjasama

Ruang lingkup pengembangan keahlian di Jurusan Teknik Kelautan ITS yaitu pada bidang rekayasa lepas pantai (offshore engineering) dan bidang rekayasa pantai (coastal engineering).
Bidang rekayasa lepas pantai (offshore engineering) memberikan keahlian pada lulusannya terutama menyangkut pada aspek perancangan dan pembangunan serta pemeliharaan bangunan laut (offshore structure) yang banyak dikembangkan pada eksplorasi hidrokarbon dan sumber daya laut lainnya. Bangunan laut tersebut bisa berupa bangunan pancang (template platform) seperti platform anjungan minyak seperti jacket structure, jetty, dry dock sedangkan bangunan apung (floating structure) seperti kapal (ship), storage barge, mooring system, Tension Leg Platform (TLP), FPSO, semi submersible, atau pipa bawah laut (subsea pipeline)
Bidang rekayasa pantai (coastal engineering) memberikan keahlian pada lulusan terutama menyangkut aspek perencanaan fasilitas-fasilitas pantai misalnya pelabuhan, dermaga dan sebagainya, termasuk pula penanganan masalah pencemaran limbah di pantai/laut. Untuk menambah wawasan bagi lulusan di bidang rekayasa pantai, lulusan juga dibekali kemampuan untuk merencanakan dan membangun fasilitas perlindungan pantai, misalnya break water, jetties, dan groin.
Secara umum Jurusan Teknik Kelautan diselenggarakan dengan menggabungkan sejumlah disiplin ilmu, meliputi teknik perkapalan, teknik sipil, permesinan laut, oceanografi dan oceanologi. Beberapa materi pendidikan yang diberikan mencangkup ilmu dasar kelautan dan perkapalan dan ilmu-ilmu terapan seperti struktur dan perencanaan, hidrodinamika, sistem kelautan, optimasi dan komputasi serta perencanaan fasilitas pantai dan laut.

Pengelompokan bidang pengembangan di jurusan Teknik Kelautan meliputi:
a.       Perancangan dan produksi bangunan laut
Bidang ini berkaitan dengan perancangan terpadu system anjungan minyak lepas pantai dan bangunan laut lainnya, analisis tekno-ekonomi bangunan laut, teknologi dan manajemen produksi bangunan laut, perancangan dan system fasilitas bawah laut.
b.      Struktur bangunan laut
Strukutur bangunan laut berkaitan dengan analisis dan perancangan kekuatan struktur bangunan laut, analisis kekuatan material, analisis keandalan dan resiko serta bidang-bidang lain yang relevan        
c.       Hidrodinamika bangunan lepas pantai
Bidang hidrodinamika bangunan lepas pantai berkaitan dengan identifikasi perilaku fluida, analisis respon dinamis bangunan laut terhadap gaya gelombang dan analisis gelombang acak serta bidang lain yang relevan
d.      Lingkungan dan energi laut
Bidang ini berkaitan dengan identifikasi kondisi lingkungan laut ditinjau dari segi oseanografi dan geologi, pemanfaatan gelombang laut dan pasang surut sebagai sumber energi alternative, konversi energi panas lautan, pemecahan masalah pencemaran lingkungan laut.
e.       Rekayasa teknik pantai
Bidang rekayasa teknik pantai berkaitan dengan perancangan fasilitas dan struktur pantai, identifikasi kondisi tanah dasar laut, analisis pondasi dasar laut, perancangan anjungan dengan beton, reklamasi, pengerukan, penanggulangan erosi pantai.
  • Peningkatan jejaring nasional/internasional melalui industrial networking, alumni, joint research
  • Membangun karakter (character building) Jurusan Teknik Kelautan.

Koordinator Bidang Keahlian

Bidang Keahlian Struktur Bangunan Lepas Pantai (Offshore Structure)
Kelompok ini bertanggung jawab pada pengembangan dan penyusunan kurikulum serta silabus yang berkaitan dengan analisis dan perencanaan kekuatan struktur bangunan laut, analisis kekuatan material, analisis keandalan dan resiko serta bidang-bidang yang relevan.
Koordinator: Ir. Jusuf Sutomo, M.Sc   Email: jsutomo@oe.its.ac.id
Bidang Keahlian Hidrodinamika  Lepas Pantai (Offshore Hydrodinamics)
Kelompok ini bertanggung jawab pada pengembangan dan penyusunan kurikulum serta silabus yang berkaitan dengan identifikasi perilaku aliran fluida, analisis respon dinamis bangunan laut terhadap eksitasi gaya gelombang, dan analisis gelombang lautan acak, serta bidang-bidang yang relevan.
Koordinator: Ir. Mas Murtedjo, MEng       Email: mas@oe.its.ac.id

Bidang keahlian Perancangan dan Produksi Bangunan Lepas Pantai
(Design and Production Of Offshore Structure)

Kelompok ini bertanggung jawab pada pengembangan dan penyusunan kurikulum serta silabus yang berkaitan dengan perancangan terpadu system anjungan minyak lepas pantai dan bangunan lain, analisis tekno ekonomis bangunan laut, Teknologi dan manajemen produksi bangunan laut, perancangan dan system fasilitas bawah laut, serta bidang-bidang yang relevan.
Koordinator: Ir. Imam Rochani, M.Sc        Email: imamr@oe.its.ac.id
Bidang keahlian Energi dan Lingkungan Laut (Ocean Energy and Environmental)
Kelompok ini bertanggung jawab pada pengembangan dan penyusunan kurikulum serta silabus yang berkaitan dengan identifikasi kondisi lingkungan laut yang ditinjau dari segi oceanografi dan geologi, pemanfaatan gelombang laut dan pasang surut sebagai sumber energi alternative konversi energi panas lautan, pemecahan masalah pencemaran lingkungan laut, serta bidang-bidang yang  relevan.
Koordinator: Ir. Arief Soeroso, M.Sc        Email: arifsuroso@oe.its.ac.id

Bidang Keahlian Teknik Pantai dan Pelabuhan Laut (Coastal Engineering)
Kelompok ini bertanggung jawab pada pengembangan dan penyusunan kurikulum serta silabus yang berkaitan dengan perancangan fasilitas dan strukutr pantai, identifikasi perilaku kondisi tanah dasar laut, analisa pondasi bangunan laut, perancangan anjungan degnan struktur beton, pengelolaan wilayah pantai, serta bidang-bidang yang relevan
Koordinator: Dr.Ir. Haryo D. Armono, M.Eng   Email: armono@oe.its.ac.id

Berikut merupakan beberapa laboratorium yang ada di jurusan Teknik Kelautan;
·            Lab Dinamika Struktur
·            Lab Hidrodinamika
·            Lab Energi laut
·            Lab Riset dan Perancangan
·            Lab Bawah Air
·            Lab Komputer


PROSPEK
Inovasi Teknik Kelautan memberikan mahasiswa prinsip-prinsip dasar rekayasa yang kuat untuk menganalisa dan merencanakan bangunan lepas pantai dan pantai serta pengetahuan yang cukup untuk memecahkan yang diberikan ke mahasiswa yang difoukuskan pada kemampuan pemecahan masalah masalah aakan melengkapi mahasiswa dengan kemampuan dan kecakapan untuk bekerja pada bindang rekayasa lepas pantai dan pantai yang cukup luas.

Kesempatan Berkarier di Perusahaan Multinasional
Telah umum diketahui bahwa sebagian besar industri rekayasa lepas pantai beroperasi di Indonesia merupakan perusahaan multinasional / asing. Jurusan Teknik Kelautan memberikan mahasiswa lingkungan serta pengalaman belajar dalam suasana kondusif yang diperlukan untuk mengembangkan kecakapan mereka, meningkatkan sikap kompetensi serta mendapatkan pengetahuan yang cukup dalam mempercepat kesiapan mereka bekerja pada perusahaan multinasional.

Jaringan Informasi Kerja
Jaringan informasi kerja yang telah terbangun di Jurusan Teknik Kelautan akan membantu lulusan dan alumni untuk memperoleh akses langsung dalam mendapatkan kesempatan yang lebih baik dalam proses pencarian kerja mereka untuk mendapatkan posisi tetap. Bantuan dalam mempersiapkan dana menulis surat lamaran kerja. Riwayat hidup serta proses wawancara juga diberikan. Alumni Jurusan Teknik Kelautan sudah tersebar di berbagai bidang seperti industri Migas (TOTAL Indonesie, CNOOC, Chevron, Conoco Philips, dll) instansi pemerintah (Dephub, DKP, Pemda), konsultan (Tachnips, Singgar Mulia, Noble Denton, dll), Klasifikasi (LR, BV, BKI, DnV, ABS), kontraktor, dan lain sebagainya. Sekian..
-dari berbagai sumber- (www.gilankhelang.blogspot.com)